kota impian yang ingin saya huni

September 9, 2008

1. Yogyakarta

Biarpun gempa pernah melanda, kota ini tidak pernah menyisakan luka buat saya. Sejak kuliah sampai akhirnya kembali ke Jakarta, saya selalu berkeliaran pontang panting di kota ini. Selain karena soto daging “abal-abal” (my mom said) di samping Ramai mall, yang jadi langganan saya sejak 6 tahun lalu (minimal tiap ke sini: 2 mangkok tapi tanpa babat, 4 potong tempe tepung dan sambal banyak2), Yogyakarta meninggalkan begitu banyak kenangan. Bukan dengan siapa, tapi pada apa yang saya jalani di sana. Dengan siapa saya bertemu dan bagaimana saya bertahan di kota ini demi sebuah penerbitan majalah kampus. Intinya, di kota ini i can do anything!!! 

Belum lagi Kotagede, life between walls, yang membuat saya termehek-mehek jatuh cinta pada setiap gang yang saya lewati kala itu, di tahun 1998…Hingga akhirnya saya datang kembali di tahun 2004 dengan segenap tugas kantor…Di sini, saya punya makanan favorit, Kipo, saya rasa semua orang tahu soal penganan yang satu ini , okey case close…kembali ke topik awal! 

Harmoni yang tercipta di Yogyakarta, membuat saya yakin, kelak jika berumur panjang (amin), saya ingin membeli rumah di sini (bukan di Jakarta), bikin perpustakaan kecil tapi dengan halaman luas, dan anak2 sekitar rumah boleh baca dan main2 sampe puas di sana….(tentu saja sambil saya ajarkan mereka menulis agar bisa berkisah ttg hari2nya yang ceria) hehehe

Di sini, saya cinta mati pada soto kadipiro lama…(yang ada lukisan kuda di dalam kedainya), yang kalau ada bupati dr daerah sebelah dateng, tempatnya musti steril dan bikin saya musti tergopoh-gopoh kalau pas lg makan di sana…secara semua meja bisa reserved….!

Di sini, saya cinta mati pada becak…si mang Adi depan Ibis Malioboro yang hobi ngajak saya ngiter2 masuk keluar keraton sambil cerita panjang lebar…soal macem2…Dan penghormatan saya pada semua abang becak di sini….kalau mau mengeluh, saya langsung inget-inget raut wajah bapak-bapak penarik becak di sepanjang kota Yogya…senantiasa saya malu untuk berkeluh kesah…

Di sini, saya kenal pengusaha muda, si pendiri SS yang bikin saya ketagihan sama ayam goreng homemade dan sambal hati ampelanya yang enak sekali itu. Di sini saya bisa bilang, ada polisi yang BAIK….bukan BAD COP yang asal tilang demi masukkan akhir bulan….Di sini saya pertama kali nyoba sate kuda Gondolayu di paksa Rozak my friend dan bikin saya meler2 keenakan…hiks *hayangggg

Intinya masih banyak hal yang membuat saya jatuh cinta sama Yogyakarta….

behind the scene buku sejarah kuliner

September 1, 2008

Selama mengerjakan buku ini, kepala saya hampir meledak (berikut emosi yang juga remuk redam) karena berbagai alasan. Sejarah. Itulah yang jadi poin utama konten buku ini. Baru saya sadari, betapa Indonesia memiliki file-ing system yang jauh dari baik. Bahkan nyaris punah. Perpustakaan daerah, keraton, kerajaan, dsb…tidak banyak membantu….

Kedua, memahami kondisi  banyak pihak yang…sungguh…bikin kerjaan seperti luluh lantah hanya karena kata-kata….saya revisi, saya tolak, saya mau ini, saya mau itu, tidak bisa, ubah, ganti, timeline..blablabla….and where am I ? dunno…asking the smiling grass….saya tertimbun diantara ketegangan demi ketegangan itu…*hey that was worked for…

Ketiga….bagian yang paling saya suka adalah berkomunikasi dengan para endores, para testimonier….yang juga sahabat-shabat saya sendiri. Haryo Pramoe yang selalu rendah hati, Letta yang selalu ceria meski kesibukannya mirip Mbak Mega, hehe, ada juga Laksmi Pamuntjak…(dibalik segala kekaguman saya pada tulisan, karya, pemikiran, dan her life)…saya jadi kenal dengannya….

Smsnya sangat “menyegarkan”. Mengangkat sekian keletihan yang terus-menerus bikin saya hampir ke lupa waktu dan kehidupan lainnya selain buku ini. Intinya, betul-betul menyita pikiran, bahkan semangat dan segalanya. Ini kalimatnya :

yang tidak formal dia (Laksmi) menyebut:

teksnya benar-benar oke loh, mencakup banyak aspek dan padat berisi

Yang kemudian diformalkan olehnya menjadi:

“Sebuah buku yang tak hanya memadukan sejarah, informasi praktis, resep, dan rekomendasi rumah makan se Nusantara secara singkat tapi padat, tapi juga dengan kepekaan kuliner yang bernas dan komperhensif”

Seketika…rasa jenuh, capek dan letih tak berperikan *sedappppp….bahasanya uedannn… lenyap-nyap….mungkin inilah yang membuat semua penulis bertahan dengan pekerjaannya. Kepuasan yang sederhana, yang justru jauh dari materi berlimpah! 

Akhir kata, saya amat sangat berharap buku ini kelar….dengan hasil yang maksimal…bagi semua yang berkepentingan di dalamnya…

*dalam keadaan terengah-engah…menulis tongseng, kupang lontong, rujak cingur dan ayam kremes yang tersisa…

-S-

amrozy…

May 12, 2008

Itu kata yang tertera dalam barisan inbox saya di hp hari Minggu, kemarin. Today is monday yay….., ISinya, terpidana mati Amrozy besok (hari ini) akan melakukan poligami dengan di wakilkan sang adik/Ali Fauzy (lengkap dengan hpnya) dimana saya mungkin saja bisa konfirm buat kebenaran berita tersebut.

Wokeh….yang menarik dan bikin saya termenung, he’s going married (again) in last time he lives, with all most treasures sin to the bom bali 2, (even i dunno is it true or not), but…..married?

Apa yang yg ada di pikiran sang calon pengantin cewe?

Apa yang ada di pikiran Amrozy sesungguhnya?

-crazy world-


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.